Malu Dengan Profesinya, Rizqipun Akan Malu Datang Padanya

Malu Dengan Profesinya, Rizqipun Akan Malu Datang Padanya

Hello Sahabat JBR Apa kabarnya?
Jumpa dengan saya penulis yang tidak memiliki basic sebagai seorang penulis, saya hanya tukang pijat yang suka berbagi apa yang saya punya. Namun saya belum bisa berbagi harta, ya cuma artikel yang saya buat berdasarkan pengalaman dan atau wawasan yang saya miliki… hehehehehhehe.
Kali inipun saya hendak berbagi artikel yang berisi pengalaman saya pribadi dan semoga dapat memacu anda dalam mencapai kesuksesan dan menjadikan inspirasi baru untuk anda Sobat JBR.

Malu Dengan Profesinya, Rizqipun Akan Malu Datang Padanya

Beberapa bulan yang lalu tepatnya bulan November 2015 saya mengikuti Training untuk sebagai partner kerja sebuah perusahaan Pijat Online di Jakarta. Ada satu bahasan yang sungguh melekat di otak dan jiwa saya dan terngiang-ngiang di telinga saya hingga sekarang dan semoga hingga akhir hayat saya. Yaitu ketika Traniner bertanya kepada para peserta Training dan diminta satu per satu peserta menjawabnya.
Trainer tersebut bertanya: “Apa yang akan anda katakan ketika anda ditanya apa profesi anda?”
Masing-masing peserta menjawab berbeda-beda. ada yang menjawab “Terapis pak!”, “Massure pak!”, “Ahli Terapi pak”, dll. Namun dari banyaknya peserta ada satu orang peserta yang menjawab paling beda dengan yang lain dan anehnya mendapatkan acungan jempol dan mendapat sanjungan dari Trainer yang humoris itu.. Peserta itu menjawab “Tukang Pijat pak!”.
Lalu peserta itu disuruhnya maju ke depan berdiri di samping Trainer yang menghadap ke peserta. dan Trainer itu meminta seorang peserta yang berdiri disampingnya untuk menjelaskan kenapa kok beda dengan yang lain. peserta itu menjawab, “Pak, apapun sebutan untuk profesi kita, sejatinya adalah kita ini tukang pijat. jadi mengapa kita harus malu mengatakan bahwa kita ini tukang pijat? bukankah kita harus mencintai apaun profesi kita untuk menuju kesuksesan? dan bagi saya bangga dengan profesi kita itu termasuk salah satu mencintai profesi kita…”
“Nah saudara-saudara, coba perhatikan rekan kita yang satu ini,, dari wajahnya aja kita sudah mendapatkan nilai ketulusan bahwa dia ini adalah mencintai profesinya. Benar sekali apa yang dia katakan tadi, bahwa kalau kita ingin sukses, maka kita harus bisa mencintai apa profesi atau pekerjaan yang sedang kita geluti. gimana kita bisa sukses atas pekerjaan yang kita bidangi jika kita sendiri sebagai pelakunya tidak mencintainya. kita akan tidak fokus, kita akan tidak yakin bahwa pekerjaan yang kita bidangi akan mencapai nilai yang tinggi, dan satu yang paling bahaya bahwa rizqi juga akan malu datang menghampiri kita. Apa sih hal utama yang kita ingin dapatkan dari profesi kita? tentunya uang kan? lah uang ini kan termasuk dari bagian rizqi.”
Lanjut trainer: Saya ambil contoh: Suatu hari saya hendak ke Kalimantan guna menjadi nara Sumber pada sebuah seminar tentang pengobatan alternatif. Acaranya hari kamis pagi, tapi saya dapat jadwal pesawat hari rabu pukul 19.00. karena saya takut terlambat sampai di bandara, maka saya berangkat dari rumah lebih cepat dan sampai di bandara pukul 16.15. Ddisela-sela waktu menanti keberangkatan pesawat, ada salah satu calon penumpang Pria dengan tujuan yang sama bertanya kepada saya: “Maaf, Bapak mau kemana?” saya menjawab “Mau Samarinda. Anda sendiri?” dia menjawab “Wah kebetulan, kita sama pak!” dan obrolanpun terjadi. lalu dia bertanya “Maaf kalau boleh tahu Profesi Bapak apa?” saya menjawab dengan santai “Saya seorang Tukang pijat” diapun mengelengkan kepalanya seraya tak percaya dan berkata “Ah, masa penampilan yang kaya gini kok Tukang pijat, kayanya gak cocok deh.. hehehehe. ini mah cocoknya seorang dosen, trainer dsb. becanda Bapak ini. hahahhaa.” lalu saya jawab lagi “Oh beneran kok! saya gak bohong dan sedang tidak bercanda. saya memang tuka
ng pijat. soal penampilan sih ya memang apapun profesi kita ya penampilan itu nomor satu.” dia pun menganggukkan kepalanya dan kemudian dia berkata: “Wah, kebetulan, saya sedang membutuhkan layanan pijat nih… pundak saya terasa nyeri, menengokpun kalau ke kiri terasa sakit sekali pada leher saya. sudah ke dokter dan minum obat namun belum juga kunjung sembuh. apakah bapak bersedia membantu?” “Oh boleh! kalau anda mempercayai saya, maka saya akan siap mencoba membantu anda.” “Kapahn bapak punya waktu luang atau saya bisa datang ke tempat pratek anda?” “Oh, gampang nanti saya kasih kartu nama saya. tapi kalau hal itu dapat dilakukan sekarang mengapa harus nanti?” diapun kaget dan bertanya penuh semangat. “Maksud bapak?” “Hehehe.. silahkan anda duduk di bawah didapan saya” Lalu penumpang itupun tanpa rasa risih dilihat banyak orang dia duduk di lantai dan saya langsung memijat-mijat pundak juga leher hingga kepalanya. setelah setengah jam berlalu, saya mengakhiri pijatan saya dan saya suruh dia berdiri kemudian saya bertanya “Gimana sekarang, apakah penyakit anda masih terasa? “Oh, Alhamdulillah sangat pak! sudah tidak terasa sama sekali! berapa yang harus saya bayar pak?” “Hehehe.. anda ini,, sudah buru-buru saja bertanya berapa imbalan untuk saya.. ya terserah berapa saja, yang penting saya telah memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain dan semoga anda tetap diberi kesehatan…” lalu dia membuka dompetnya dan mengeluarkan 3 lembar uang ratusan ribu dan dengan wajah yang gembira dia memberikannya kepada saya sambil berkata “Ini pak imbalan untuk jasa yang saya sudah dapatkan, dan saya mengucapkan terimakasih sekali nih. hehehe.” dan kemudian beberapa penumpang yang menyaksikan kejadian itupun mendatangi saya untuk minta di pijat. hehehhehehehehe..” Pemaparan Trainer itu…

Malu Dengan Profesinya, Rizqipun Akan Malu Datang Padanya

Nah, dari cerita pengalaman saya diatas, maka bahwa kita harus dan wajib tidak malu dengan apapun profesi kita. Karena jika kita malu, maka rizqi juga akan malu menghampiri kita. sebab jika kita malu dan menggunakan istilah-istilah atau bahasa inggris dan atau bahasa asing lainnya belum tentu orang paham dan mengerti artinya. Namun jika kita bicara apa adanya, bisa jadi orang yang bertanya dengan kita itu sedang membutuhkan jasa atau layanan dari pekerjaan kita. maka dengan demikian rizqipun mudah anda dapatkan.

Demikianlah Profokasi hari ini, semoga bermanfaat buat kita semua…
Salam sukses, saya Hendri Nirwana, untuk sobat JBR.

Masih Anti Atau Meremehkan Berbisnis Online?

Masih Anti Atau MeremehkanBerbisnis Online?

AWAS!
JANGAN DIANGGAP ENTENG
Karena manfaat luar biasa.

Sekarang Bisnis online semakin digemari, semakin banyak peminatnya. kenapa? Banyak Alasannya.

– Tak perlu ruko,
– Tak perlu karyawan,
– Tak perlu perizinan. Setidaknya di tahap awal. Hemat.
– Satu lagi, tak perlu keahlian berbicara.

Dengan internet dan sosmed, kita tidak perlu lagi menyewa ruko atau membuka stand. Bukan itu saja, tidak perlu lagi memasang spanduk, fliyer, dan iklan koran.

Dunia online, bisnis online, kalau ditekuni, hasilnya bisa menyamai bahkan melebihi bisnis offline. Sangat menghasilkan. Itulah faktanya.

Jangan dianggap enteng! Karena manfaat luar biasa.

Smartphone dan sosmed mestinya kita manfaatkan untuk menghasilkan uang. Bukan untuk senang-senang saja. Bukan untuk iseng-iseng. Betul?

Untuk menjadi Pengusaha, kuncinya satu, KEBERANIAn.
Karena: yang punya keberanian, ini yang Langka.

Soal laku atau tidak, itu urusan terahir.
Yang utama adalah: kita berani mencoba.
Bisnis online, ini mempermudah kita menembus batas, dan juga mudah membuka cabang di beberapa kota antar Pulau.

Bagaimana dengan teman-teman?
Masih takut atau ragu-ragu?

Atau masih merasa tidak mampu melakukannya?

Saya berharap, teman-teman yang sudah membaca tulisan ini sudah memiliki keberanian untuk membuka usaha. Dan semoga sukses. Aamiin.

Banyak sekali para mentor-mentor diluar sana yang siap membimbing teman-teman untuk memulai berbisnis online secara berbayar maupun yang dengan cuma-cuma.

teman-teman bisa mencarinya di youtube atau artikel-artikel yang bertebaran di internet.

kuncinya satu,, ada kemauan untuk merubah keadaan seiring persaingan yang semakin tinggi dan beragam.